Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, April 07, 2010

LENCANA HITAM

Malam semakin larut, suasana yang hening dan dinginnya malam yang menusuk ke kerongkongan memaksaku untuk pergi ke keranjang 1,5 X 2 m yang ada di sudut kamarku. Ku pejamkan mataku meskipun belum terasa mengantuk.

"Umbul-umbul blambangan...umbul-umbul blambangan..." sepenggal lagu alarm memaksaku bangun. "Ah...masih jam 2.45." ku berusaha bangun, namun belaian bantal dan keranjang tidak mengijinkannya. akhirnya aku pun terbangun sekitar jam 5 pagi.

Seperti rutinitas harian, setiap kali bangun aku pergi ke teras atas untuk mengambil jatah oksigen yang disediakan oleh alam. sembari melihat rumah-rumah yang masih belum beraktivitas aku membayangkan mimpiku semalam yang hampir mirip dengan mimpi-mimpi pada malam sebelumnya. "Mimpi terbang lagi...terbang lagi. tapi mengapa untuk kali ini untuk terbang saja sulit? tak seperti mimpi terbang sebelumnya yang sangat mudah dan menyenangkan. Ah bodo ah, namanya juga bunga tidur."

setelah merasa penuh oksigen ku ambil air wudhu sebagai prasyarat bertemu denganNya. Tak seperti biasanya hari ini aku merasa capek dan lelah, tak semangat kuliah, kangen emak dan bapak, pengen nangis, campur aduk mirip gado-gado di pinggir jalan yang dulu sering aku makan. tapi mau gimana lagi, udah jadi konsekuensi menjadi mahasiswa rantau, selain itu ini juga merupakan puzzle yang akan melengkapi perjalanan hidupku.

Jam ponsel menunjukkan 8.45, waktunya siap2 kuliah. dengan sebagian nyawa yang masih tertinggal di atas kasur empuk ku aku beranikan diriku untuk melangkah ke luar kontrakan yang berjarak 650m dari kampus. "tumben aq datang lebih awal dari dosennya(gumam dalam hati)."

Ku ikuti setiap detil dari petuah yang dosen ucapkan dan kucatat setiap coretan emas di papan putih yang nimbrung di depan kelas. semakin siang suasana kelas semakin hangat, canda tawa dan lelucon yang dibuat oleh dosen sedikit banyak mengobati perasaanku yang dari tadi pagi pengen nangis dan kangen emak bapak.

"Jeglarrrr...." bak petir di siang bolong. mendadak orang yang bergelar sebagai orang yang patut di GUgu dan ditiRU(Guru/Dosen) mengeluarkan senjata yang paling tajam sepanjang jaman. "KAMU(disini adalah aku), KAMU YANG BAJU ****, DAN *** ORANG KELUAR DARI KELAS SAYA!!!(sembari mengeluarkan energi negatif yang ada pada dirinya)." sejenak suasana kelas pun menjadi hening. "kesalahan saya apa pak?" tanyaku yang masih bingung. "KAMU MASIH TANYA KESALAHANMU APA??KELUAR DARI KELAS SAYA SEBELUM SAYA SEMAKIN MARAH!!! BAWA JUGA TASNYA KELUAR!!!" segera aku rapikan buku dan tasku dan menuju ke meja beliau. "TANDA TANGAN!" tegas beliau. kucari pulpen yang sedang bersembunyi di antara kertas-kertas di dalam tas, mungkin dia takut atau mungkin dia malu karena sahabatnya dikeluarkan dari kelas. "NGAA PUNYA PULPEN, NI SAYA PINJAMI." kata beliau dengan nada yang sedikkit meninggi. aku tetap diam, sembari mengeluarkan pulpen yang mulai keluar dari persembunyiannya. kemudian kububuhkan tanda tangan dan "Makasih pak."

Sembari melangkahkan kaki keluar aku berusaha menenangkan hati yang ingin sekali marah.
"Sabar...sabar, ileng saiki lagi poso... mosok gor goro-goro ditokno tko kelas mbatalne posomu."

Ketika di luar kelas, aku berusaha mencoba memposisikan diriku sebagai beliau dan dengan gambaran suasana yang sama seperti di kelas. Setelah merenung aku mencoba menarik garis perak di antara awan hitam dan putih. "Apa aku ramai? Nggak ah, daritadi aku diam. Oh, mungkin kesalahnku tadi gara-gara aku nanya ke temanku ketika dia lagi mengeluarkan energi negatifnya? tapi, aku kan nanya seputar matakuliah tepatnya apa yang dimaksud dengan monotonic dan non-monotonic. Ah, mungkin waktu nanyanya yang kurang tepat. ah, tak apalah mungkin itu potongan puzzle yang harus aku sisipkan di antara puzzle-puzzle lainnya."

Meskipun sedikit kecewa, tetapi aku mencoba memetik pelajaran berharga dari semua ini, bahwa lain kali aku harus berusaha lebih baik lagi dalam membaca suasana, supaya tidak salah langkah. tetapi seandainya ada kesempatan, aku hanya ingin tahu kesalahanku apa dan supaya aku bisa memperbaikinya. untuk sosok yang menjadi salah satu orang yang tidak akan pernah saya tentang* yang memberikan lencana hitam kepadaku, aku hanya ingin berucap "Siapa saja bisa marah. Marah itu mudah. Tetapi, marah kepada orang yang tepat, dengan derajat kemarahan yang tepat, pada saat yang tepat, untuk tujuan yang tepat, dengan cara yang tepat, itu tidak mudah. Akan Tetapi sebelum marah, menarik diri dan mendengarkan penjelasan orang lain adalah hal yang lebih baik dilakukan karena dari sana kita akan dapat melihat dari berbagai sudut pandang. Bukan maksud menggurui atau yang lainnya karena dari segi pengalaman hidup, bapak sudah jauh berpengalaman dan lebih mendalam, sedangkan saya baru anak kemarin sore. tetapi orang yanng bijak adalah orang yang mau mendengarkan, meskipun perkataan tsb berasal dari seorang balita."

maturnuwun sanget sampun ndidik kulo lan kulo nyuwun pangapunten yen kulo nggadah kalepatan...

Selasa, Desember 01, 2009

MENABUNG

Anak dalam gendongan mbak Tin belum diam. Semakin mbak Tin berusaha menenangkannya, tangisan Alan semakin pecah. Mbak Tin pun kuwalahan menanganinya.

“Cup-cup sayang.” Sambil menepuk-nepuk pantat anaknya.

“Mungkin Alan lapar mbak.”

“Ngak lah, lha wong habis makan. Kelihatannya ngantuk, soalnya dari tadi pagi dia belum tidur sama sekali.“

“Ehm… Kalau gitu baringkan saja mbak di kasur dalam rumah, kasihan mbak kalau harus gendongin dia terus. ”

“Yo wis, tapi tolong jagain jemuran gabah mbak, takut dicekerin sama ayam.”

“Ya mbak.”

Mbak Tin pun menuju kamar untuk menidurkan anaknya. Setelah menidurkan anaknya, dia kembali ke jemuran gabah.

“Le, gimana kuliahnya? Lancar nggak?”

“Alhamdulillah lancar. Kenapa mbak?” melirik ke arah mbak Tin yang duduk disampingku.

“Nggak kenapa-napa, Cuma pingin tahu saja. Terus gimana nilainya?”

“Alhamdulillah bagus, semester satu kemarin IP aku 3,90 dan yang semester dua 4,00.”

“Puh…puh...puh…tinggi banget le IP-mu.” menunjukkan ekspresi keheranan dan mengelus-ngelus kepalaku.”Adikku yang ini mang benar-benar pintar.”

“Amin…Ini semua kan berkat do’a mbak juga, tanpa do’a mbak mungkin aku belum bisa mencapai nilai segitu.” Jawabku dengan malu-malu.

“Yo ngono…, sampeyan kan anaknya orang kurang mampu, mumpung dapat rejeki bisa kuliah gratis, sampeyan harus menunjukkan ke pemberi beasiswanya sampeyan bahwa sampeyan bisa bersaing dengan orang-orang kota, walaupun sampeyan dari desa.”

“Ya mbak...”

“Oia mbak, kemarin aku kan ngenet, terus aku nyari-nyari informasi di Google tentang tabungan. Kalau menurut aku, apa nggak sebaiknya dari sekarang mbak mempersiapkan tabungan masa depan buat Alan, terutama tabungan pendidikannya. Kan, kita sama-sama tahu bahwa pendidikan sekarang cukup mahal, bahkan tiap tahun mengalami kenaikan, jadi kalau mbak mempersiapkannya dari sekarang mungkin kedepannya tidak terlalu berat dalam membiayai pendidikan Alan.”

Mendengar ucapanku, mbak Tin tersenyum dan menatap mataku. Aku pun tertunduk malu dan takut, aku takut kalau apa yang telah aku ucapkan tadi menyinggung perasaannya karena aku dianggap telah mengguruinya.

“Huh...” Mbak Tin menghela napas panjang dan mengehmbuskannya. “Emangnya orang-orang seperti mbak boleh nabung, bukannya tabungan itu buat orang-orang yang berduit saja.”

Segera aku mengangkat wajahku dan menatap balik mata mbak Tin. Entah kekuatan dari mana aku menjadi berapi-api untuk mejelaskan sedikit pengetahuanku tentang dunia perbankan yang baru saja aku peroleh kemarin sore. “Ya, nggak mbak. Orang-orang seperti kita pun juga berhak menabung di bank, tidak hanya orang-orang yang beduit saja. Kan salah satu tujuan bank didirikan adalah untuk menghimpun dana dari masyarakat, tidak peduli golongan bawah, menengah atau atas, terus dana tersebut biasanya akan disalurkan kembali kepada pihak-pihak yang membutuhkan dengan tingkat bunga yang berbeda-beda di tiap bank, tergantung kebijakan masing-masing bank. Selain itu, kalau kita menyimpan uang di bank, uang kita akan dijamin keamanannya, terus kita juga akan dapat kontribusi dari bank atau yang biasa disebut dengan bunga, besar kecilnya bunga yang kita peroleh tergantung dari besar kecilnya uang yang kita simpan di bank. Dan yang paling penting adalah dengan menabung di bank kita turut serta dalam melakukan pembangunan negeri ini mbak.”

“Tapi le, mbak takut.”

“Takut kenapa mbak, kan bank nggak bisa nggigit?” cetusku.

“Hahaha… emangnya kucing, nggigit. Kalau aku nyimpan uangnya di bank, terus aku mau ngambilnya gimana? Lagian kata orang kalau menabung di bank itu ribet, suruh ngisi kolom-kolom gitu mirip ujian sekolah, mbak kan ga terlalu paham, lagian gaji masmu tiap bulan kan cuma Rp 500.000,00, mangnya bisa buat nabung? Kan, kata orang-orang pertama kali menabung itu butuh uang yang gede.”

“Mbak…” aku mengambil napas panjang dan membuangnya. “Nggak semua yang dibicarakan orang itu benar, tapi juga nggak semuanya salah. Mang benar waktu pertama kali menabung membutuhkan setoran awal, tetapi setoran itu tidaklah terlalu besar, biasanya setoran awalnya paling kecil Rp 50.000,00 atau Rp 100.000,00, itu semua tergantung kebijakan masing-masing bank, sehingga dengan gaji mas Puji yang segitu tadi mbak sudah bisa membuka tabungan di bank. Uang yang sudah ditabung juga bisa diambil kapanpun kok. Dan untuk pengisian kolom-kolom yang tadi, hanya dilakukan pada saat kita pertama kali membuka tabungan, biasanya cuma berisi informasi data diri kita dan itu pun pasti akan dipandu oleh pihak bank dalam mengisinya. Setelah mengisi kolom-kolom tersebut, nanti mbak akan diberi buku tabungan dan biasanya juga diberi kartu ATM, jadi lewat buku tabungan tersebut mbak bisa mengontrol dan mengawasi keuangan mbak yang disimpan di bank. Selain itu mbak, dengan kartu ATM yang diberi bank tadi, mbak bisa berbelanja di beberapa toko yang bekerjasama dengan bank tersebut tanpa harus membawa uang tunai, jadi lebih aman dan simple mbak. Di samping itu, melalui bank mbak juga sudah bisa membayar tagihan listrik, PAM, dan telepon. Dan tentunya masih banyak lagi keuntungan-keuntungan yang dapat mbak Tin nikmati. Gimana mbak? Apa nggak tertarik?” bujukku.

Ku lihat raut muka mbak Tin mulai agak berseri-seri, mungkin ini pertanda baik bahwa dia mau menabung di bank. “Yo wis… aku bilang dulu ke masmu. Tapi beneran kan bisa diambil kapan-kapan kalau mbak butuh uang?” menatapku dengan tajam dan dengan nada yang tegas.
“Ya mbak, InsyaAllah bisa.” Kataku untuk meyakinkannya.

**
Keesokan harinya, ketika aku sedang mencuci motor kakekku. Terdengar suara memanggil-manggil namaku dari kejauhan.

“Put…Put…Put.” Aku tengok kanan dan kiri, ternyata itu suara mbak Tin.

“Kenapa mbak?“ tanyaku.

“Antarin mbak ya.”

Aku yang melihat raut muka mbak Tin yang berseri-seri mencoba untuk menerka apa yang sedang dipikirkannya.

“Ngantar kemana mbak? Ke Bank? Hehehehe…” celetukku.

“Iya… seperti yang kamu bilang kemarin, kata kamu kan nabung di bank itu banyak keuntungannya dan mbak pikir nggak da salahnya mulai dari sekarang mbak dan masmu mempersiapkan tabungan masa depan untuk Alan, terutama pendidikannya, biar mbak dan masmu nggak terlalu berat di masa yang akan datang. Makasih ya sarannya.”

“Ya mbak… ya sudah tunggu sebentar ya mbak, 15 menit lagi aku jemput mbak di rumah mbak, soalnya aku tinggal sedikit lagi mencuci motornya dan sekalian aku mandi.”

“Yo wis, mbak juga mau siap-siap.” Sambil pamit pulang.

Selesai membersihkan motor dan siap-siap, segera aku tancap gas untuk meluncur ke rumah mbak Tin.

“Yut…Buyut… mbak Tin mana yut?” tanyaku.

“Tin…Tin…adikmu sudah datang lho…Buruan berangkat sana, dandan dari tadi kok nggak kelar-kelar.” Teriak buyutku dari teras rumahnya.

“Ya…ya… ini juga sudah selesai.” Sambil berjalan keluar dari kamar. Dan aku pun memutar balik motorku untuk siap-siap meluncur ke bank terdekat. Kemudian aku menghidupkan motorku.

“Le, ntar di sana waktu buka tabungan butuh berapa lama?” sambil naik ke boncengan motor

“Ya…. Kalau nggak antri paling 20 menit juga selesai. Gimana mbak? Sudah siap belum?”

“Sudah… yo wis… ayo berangkat.”

“Yut, berangkat dulu… Assalammu’alaikum…” kata kami berdua

“Wa’alaikumsalam… hati-hati di jalan.”

“Nggeh…”

Akhirnya, kami pun meluncur ke bank terdekat.

**
Kira-kira kami di bank sekitar 30 menit dan setelah selesai membuka tabungan kami pun berangkat pulang. Dalam perjalanan pulang mbak Tin terus mengajak aku bercakap-cakap.

“Owalah le… ternyata membuka tabungan itu nggak ribet-ribet amat, malahan mudah.
Ternyata nggak sama dengan yang orang-orang omongin selama ini, yang katanya ribet lah, susah lah, dll.”

“Ya… gitulah mbak. Mang nggak ribet kok.”

“Kalau tahu gini, sejak dari dulu aja mbak menabung di bank dan mulai besok saya mau kasih tahu orang-orang sekitar rumah dan teman-teman arisan mbak, ternyata membuka tabungan di bank itu nggak ribet dan tentunya dapat banyak keuntungan, terutama aman dan bunganya itu lho.”

“Sip…sip…”

Aku sangat senang dan kaget ketika mendengar mbak Tin berucap seperti itu. Senang karena dia akan memberitahu orang lain untuk menabung di bank dan kaget karena ternyata di desaku masih banyak orang-orang yang belum mengetahui tentang keunggulan-keunggulan apa saja yang akan diperoleh nasabahnya jika menabung di bank. Tapi aku memakluminya, karena desaku memang agak pedalaman. Akan tetapi kalau dipikir-pikir lagi, “Apakah kita sebagai orang pedalaman tidak berhak mendapatkan sosialisasi tentang dunia perbankan? Padahal setahu aku, orang-orang pedalaman atau desa itu mempunyai cukup uang untuk menabung di bank, bahkan cukup banyak. Cuma pada umumnya mereka tidak tahu kalau ternyata ada lembaga keuangan yang dapat menghimpun dana mereka, sehingga menyimpan uang di bawah kasur menjadi pilihan mereka.” Kataku dalam hati.

Mudah-mudahan setelah membaca cerpen ini, suatu saat akan ada orang-orang atau lembaga-lembaga keuangan seperti bank yang memberikan sosialisai tentang dunia perbankan, tidak hanya di desaku saja tetapi di desa-desa yang lain juga. Itu semua karena Dengan Bank Yang Sehat Bangunlah Desanya Bangunlah Negaranya.

Senin, November 30, 2009

MENATA MASA DEPAN BERSAMA TABUNGAN PERENCANAAN

Tak terasa, sudah setahun lebih aku hidup di Jakarta. Arus uang dan informasi yang begitu cepat memaksaku untuk berpikir keras bagaimana caranya memanajemen keuanganku.

Mahalnya makanan di Jakarta, terkadang membuatku kelimpengan di akhir bulan. Mungkin bukan hanya aku yang mengalami ini, tetapi masih ada teman-teman lain yang senasib dan sepenanggungan, terutama anak daerah.

Malam hari suasana Jakarta sangat jauh berbeda dengan suasana perkampungan. Di kampung hanya suara kodok dan jangkrik yang memecah keheningan malam, tetapi di Jakarta suara klakson dan suara pedagang kaki lima masih mendominan.

Dari lantai dua, aku melihat banyak pedagang kaki lima wira-wiri di depan kontrakan, ada nasi goreng, nasi gila, bakso, somay, empek-empek, ketoprak, dan lain-lain. Terkadang aku merasa iba dengan mereka, masih bekerja di saat yang lain mengistirahatkan badannya. Terlintas di benakku, “Mengapa mereka bisa seperti itu? Bagaimana dengan masa depannya dan keluarganya? Bagaimana kehidupan ekonomi mereka?” Dan masih banyak lagi seliweran-seliweran pertanyaan lainnya. Kalau di kampung masih mending, karena sayur dan lauk bisa di dapat dari sawah dan kali. Tapi kalau di sini? Rumput ja mau tumbuh pikir-pikir.

Semakin kuresapi, semakin takut aku memikirkan masa depanku. “Masa depanku gimana ya? Jauh beda nggak sama para pedagang itu? Gimana kalau dah berkeluarga?” Dan masih banyak lagi hal-hal yang membuatku semakin abstrak memikirkan masa depanku. Memang benar kata emakku yang di kampung, semakin dewasa akan semain banyak hal yang harus dipikirkan. Sedikit melenceng dari konteks masa depan, aku bukanlah anak orang yang bercukupan secara materi. Tapi, aku merasa beruntung karena bisa kuliah, yaitu dengan beasiswa.

Ketakutanku memikirkan masa depan, mendorongku mengeluarkan laptop yang diberi pemberi beasiswaku dari dalam tas. Ku kunjungi mbah google dan kuketikkan kata “MERENCANAKAN MASA DEPAN.” Dalam hitungan sepersekian detik, berlembar-lembar dokumen sudah mengantri untuk siap dibuka.

Ku klik salah satu dokumen, disebutkan bahwa mengatur atau merencanakan masa depan bisa melalui jasa perbankan. Dengan sigap, segera aku membuka berbagai situs perbankan.

“Tumben Yas, ngunjungi situs perbankan, biasanya Facebook terus yang dikunjungi.” Ledek salah satu teman yang duduk disampingku.

“Lagi berpuasa dari facebook. Hahahaha…. Nggak gitu juga, aku merasa setahun ini sering membelanjakan uangku untuk hal-hal yang nggak begitu perlu, maka dari itu aku buka situs perbankan, siapa tahu aku bisa nemu solusinya.” Kataku.

“Aduh, kata-kata terakhirnya tu yang nggak nahan, tapi kalau emang kayak gitu mendingan kamu buka tabungan perencanaan saja.” Jawab temanku.

“Tabungan Perencanaan?” Tanyaku sambil melirik ke arahnya.

“Ya, tabungan perencanaan…Jadi, tiap bulan uang kamu yang ada di rekening bakalan di autodebet secara otomatis tanpa perlu datang langsung ke bank yang bersangkutan. Dan proses autodebet tersebut akan dilaksanakan sesuai tanggal yang telah disepakati bersama, yaitu antara pihak bank dan kamu, serta uang yang akan di autodebet pun sesuai dengan kesepakatan bersama juga. Bunganya juga lebih gedhe lhooo daripada tabungan biasa.” Jawabnya cukup gamblang.

“Wah, enak juga tuh…dah nggak perlu datang ke bank yang bersangkutan, bunganya lebih gedhe lagi. Tapi cara bukanya gimana? Trus kita ngecek jumlah uang yang dah ditabung gimana?” Tanyaku penasaran.

“Perasaan sedang buka situs perbankan deh, lihat ja di situ, kan ada…” jawab temanku sambil menunjuk laptopku yang menyala.

Menit demi menit aku menggulung scroll naik turun. Ku baca tiap detail informasi yang berkaitan dengan tabungan perencanaan. Satu demi satu situs perbankan aku kunjungi, mulai dari situs bank A sampai bank Z. Ku pelototi layar laptop di depanku dengan seksama. Halaman demi halaman telah aku baca. Dari sanalah aku mendapatkan informasi bahwa banyak sekali keuntungan-keuntungan yang akan didapat bila menabung dalam bentuk tabungan perencanaan, diantaranya mendapatkan suku bunga yang lebih tinggi daripada tabungan biasa, mendapatkan asuransi, jangka waktu menabung yang fleksibel, dapat menambah dana di luar setoran bulanan, belajar hidup disiplin dan berkomitmen. Dan untuk pengecekan uang yang telah disetor, pihak bank juga telah menyediakan fasilitas pengecekan, ada yang via ATM, internet, rekening koran, dan lain-lain.

Dalam suatu artikel, di salah satu situs berita di internet, dikatakan bahwa “Kegagalan atau kekurangan yang acap kali terjadi ketika kita hendak menabung umumnya disebabkan oleh beberapa kondisi berikut ini. Pertama, kurangnya kedisiplinan kita dalam menabung sejumlah uang secara teratur setiap bulan. Dalam hal ini, kita cenderung menunda keinginan untuk menabung karena kita merasa tidak ada kewajiban yang hakiki untuk melakukannya.”

“Kedua, godaan untuk menarik dana dari tabungan yang kita miliki guna memuaskan kebutuhan belanja yang tidak perlu. Ketiga, umumnya kita merasa bahwa kita membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa mengakumulasi jumlah uang dalam jumlah besar melalui skema menabung.”

“Akibatnya, kebiasaan menabung yang seharusnya kita lakukan terkendala dengan fenomena tersebut. Bila komitmen untuk menabung sering kali terkendala dengan munculnya beragam kesalahan tersebut, adakah solusi yang bisa kita terapkan untuk mewujudkan impian atau aspirasi kita di masa depan?” Jawabanya “Ada, yaitu tabungan perencanaan.”

Jika ditilik dari slogan “3P” yang telah diluncurkan oleh bank sentral Indonesia, menurut aku tabungan perencanaan sudah memenuhi kriteria tersebut, bahkan cukup baik. Pertama, Pastikan Manfaatnya. Tabungan perencanaan lebih unggul dalam pemberian suku bunga(lebih tinggi), terdapat asuransi, mendidik para nasabahnya untuk hidup disiplin dan berkomitmen, dan membidik target perencanaan masa depan nasabahnya lebih tepat daripada tabungan biasa.

Kedua, Pahami Risikonya. Dalam hal ini, menurut aku tabungan perencanaan tidak begitu memberikan risiko yang signifikan asalkan kita mematuhi term & conditions yang disepakati bersama. Bahkan, di sisi lain tabungan perencanaan memberikan kita perlindungan asuransi jika nasabah mengalami ketidakmampuan total tetap atau meninggal dunia.

Ketiga, Perhatikan Biayanya. Jika dilihat dari segi biaya, menurut aku biaya administrasi, dan lain-lain yang dibebankan tidaklah besar. Justru keuntungan yang akan didapatkan jauh lebih besar.

Berdasarkan fakta-fakta itulah aku semakin tertarik untuk mencoba tabungan perencanaan. Karena TABUNGAN PERENCANAAN MEMBANTU KITA MENATA MASA DEPAN.

Kedepannya, aku berharap tabungan perencanaan akan semakin dilirik dan dinikmati oleh nasabah perbankan di seluruh Indonesia. Hal ini dikarenakan kemudahan, kedisiplinan, dan kenyamanan yang ditawarkan. Di sisi lain, aku berharap tabungan perencanaan tidak hanya melayani perencanaan-perencanaan untuk sebuah keluarga atau individu, tetapi juga melayani perencanaan pendidikan seperti kegiatan study tour dan research, bazaar, hari ulang tahun sekolah, dan lain-lain. Dan mungkin juga bisa dikembangkan lagi untuk perusahaan atau corporate, misalnya membantu perencanaan pengadaan training karyawan, kegiatan reuni, dan lain-lain.