Tampilkan postingan dengan label perbankan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perbankan. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juni 16, 2010

Tarik dan Setor Tunai via SMS-Banking

Tarik dan Setor Tunai via SMS-Banking

Latar Belakang

Teknologi SMS yang terintegrasi di dalam seluler merupakan salah satu teknologi nirkabel yang sedikit banyak memberikan kontribusi kepada kita dalam berkomunikasi di kehidupan sehari-hari. Tarif yang murah tanpa kehilangan maksud dan isi dari informasi di dalamnya menjadikan teknologi ini diminati oleh kalangan manapun, mulai dari bos-bos di perusahaan hingga tukang becak di pinggir jalan.

Kehadiran teknologi SMS ternyata juga membantu meningkatkan layanan perbankan dalam hal SMS Banking. Para nasabah yang gila teknologi(high tech) merasa dimanjakan dengan fasilitas ini. Cukup dengan mengirimkan SMS maka transaksi perbankan dapat dilaksanakan saat itu juga.

Kemudahan yang diberikan, kepraktisan, kemanan dan kenyamanan yang diberikan kepada nasabah menjadikan SMS Banking makin dinikmati oleh penggunanya, sehingga mengakibatkan pengguna SMS Banking pun makin meningkat. Peningkatan jumlah pengguna SMS Banking seharusnya juga diimbangi dengan peningkatan fasilitas pada teknologi ini.

Peningkatan fasilitas pada SMS Banking salah satunya dapat dilakukan dengan cara melakukan pengembangan dari sisi pelayanan. Jika selama ini, SMS Banking hanya dapat melakukan transaksi perbankan non tunai, maka diharapkan ke depannya salah satu layanan perbankan berbasis SMS ini dapat mekakukan penarikan dan setoran tunai.

Permasalahan

Pengecekan saldo, e-commerce(pembelian tiket pesawat,dsb), transfer uang, pembayaran tagihan(kartu kredit, telepon, PAM, dsb), dan isi ulang pulsa adalah fitur-fitur yang pada umumnya terdapat pada SMS Banking. Sehingga, para nasabah pun dapat melakukan transaksi-transaksi perbankan di atas dimanapun dan kapanpun. Tetapi untuk setor dan tarik tunai uang, maka para nasabah harus rela menuju ke mesin ATM atau kantor cabang bank terdekat.

Untuk menuju ke mesin ATM atau kantor cabang terdekat, bagi masyarakat perkotaan(seperti JAKARTA, SURABAYA dan kota-kota besar lainnya) mungkin tidak begitu masalah, terutama untuk jaraknya. Hal ini dikarenakan, jumlah mesin ATM dan kantor cabang di kota besar lebih banyak dibandingkan dengan yang ada di kota-kota kecil atau di daerah. Jumlah mesin ATM dan kantor cabang yang tidak begitu banyak yang berada di daerah, mau tidak mau jika masyarakat ingin melakukan setoran dan penarikan tunai, mereka harus rela menempuh jarak berkilo-kilo meter untuk menuju ke kantor cabang bank atau mesin ATM terdekat.

Dari pemaparan di atas, bagaimana caranya kita dapat memberikan kemudahan kepada para nasabah agar dapat melakukan transaksi perbankan yang berupa penarikan dan setoran tunai tanpa harus meninggalkan posisinya pada saat itu.

Solusi

Konsep Digital City yang mengusung perpaduan antara layanan publik berbasis ICT dan infrasturktur broadband sebenarnya sudah cukup untuk menghadapi tantangan ini, yaitu bagaimana caranya memberikan kemudahan kepada para nasabah agar dapat melakukan transaksi perbankan yang berupa penarikan dan setoran tunai tanpa harus meninggalkan posisinya pada saat itu.

Sebagai Case Study saya akan mengambil contoh kabupaten Banyuwangi. Alasan saya mengambil sample daerah ini karena di daerah ini memiliki potensi yang cukup besar dalam menyokong perekonomian Jawa Timur. Selain sebagai lumbung padi Jawa Timur, Banyuwangi juga merupakan daerah penghasil ikan dan pengalengan ikan yang potensial di Indonesia, dsb. Sehingga, cash flow di daerah ini cukup baik.

Walaupun memiliki cash flow yang cukup baik, tetapi faktanya masyarakat Banyuwangi kurang begitu berantusias untuk menginvestasikan atau menyimpan uangnya di bank. Bukan karena mereka tidak "ngeh" atau kurang paham dengan manfaat yang akan mereka terima jika mereka menginvestasikan uangnya di bank. Tetapi faktanya adalah jumlah kantor cabang bank dan mesin ATM yang dimiliki di Banyuwangi tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang banyak. Selain itu, untuk menuju ke kantor cabang bank atau mesin ATM terdekat mereka harus menmpuh jarak yang jauh, terutama untuk daerah-daerah terpencil seperti Siliragung, Kalipuro, Pesanggaran, Bangorejo, Wongsorejo, Glen Falloch, dll. Padahal di daerah-daerah itulah yang cukup banyak menyokong perekonomian daerah ini, terutama dalam hal pertanian, perkebunan, dll.

Dengan memanfaatkan teknologi SMS Banking (yang merupakan salah satu wujud nyata dari layanan publik berbasis ICT dan infrastruktur broadband) dan mengkolaborasikannya dengan peranan pemerintah, saya yakin bahwa kita dapat mengatasi masalah ini.

Dalam sistem penarikan dan penyetoran tunai via SMS Banking kita dapat mengadopsi teknologi SMS-Banking yang sudah ada, yaitu:
1. SMS Biasa
Transaksi dilakukan dengan cara mengirimkan SMS dengan kode tertentu ke nomor khusus yang telah disediakan oleh pihak bank.

2. Menu SIM Toolkit
Menu yang sudah terimplementasi pada SIM-Card, misalnya Satelindo@cces, M3Acces, Life in hand (Pro-XL), Navigator64 (Telkomsel)

3. Aplikasi Java
Seluler nasabah harus berteknologi Java dan terlebih dahulu harus menginstall aplikasi SMS-Banking yang telah disediakan oleh bank bertalian. Tetapi dalam penggunaan SMS-Banking tidak perlu lagi mengirimkan kode-kode tertentu.

Cara kerja dari sistem penarikan dan penyetoran tunai via SMS Banking adalah:
1. Pelanggan melakukan SMS Banking seperti biasa, cuma pada saat melakukan penarikan atau penyetoran tunai, pelanggan di haruskan memberitahukan nominal uang yang akan disetor atau ditarik, tentu saja jumlah uang yang disetor ataupun ditarik harus sesuai dengan syarat yang diberikan oleh pihak perbankan, misal untuk penarikan minimal Rp 100.000 dan penyetoran minimal Rp 50.000.

2. Setelah data-data yang diberikan nasabah selesai diproses oleh server bank, maka server bank akan mengirimkan kembali data-data penarikan atau penyetoran uang ke komputer yang ada di daerah yang bersangkutan yang ditempatkan di kantor - kantor pedesaan.

3. Setelah data diterima, maka petugas pengantar/penjemput uang yang ada di desa menuju ke lokasi nasabah yang melakukan transaksi penarikan atau penyetoran uang tersebut untuk mengambil/mengirimkan uang berdasarkan bukti transaksi penarikan/penyetoran yang sebelumnya di print. Dan uangnya ditaruh di box yang terkunci dan hanya dapat dibuka dengan mengkombinasikan kode unik yang ada di sisi pengirim dan penerima.

4. Setelah uang disimpan di kantor desa(jika setor) atau diterima oleh nasabah(jika tarik), maka pihak penerima uang melakukan sms atau telepon sebagai konfirmasi penerimaan/penyetoran uang.

Simulasi:
Di desa Siliragung pak Bejo ingin melakukan penarikan uang tunai, maka:
1. Pak Bejo melakukan SMS banking seperti biasa dan menyebutkan nominal uang yang ingin ditarik, misalnya Rp 500.000,00. Kemudian pihak server bank memproses data yang dikirim oleh pak Bejo.

2. Setelah data diproses, server bank menginformasikan kepada petugas yang ada di kantor desa untuk mengirimkan sejumlah uang berdasarkan data yang dikirimkan oleh pak Bejo.

3. Petugas memasukkan sejumlah uang sesuai informasi yang diterima dan mencetak bukti penarikan untuk ditandatangani pak Bejo. Kemudian petugas men-set kode sesuai dengan kode pengunci box yang diberikan oleh server pusat. Misal kode: 012345

4. Petugas menuju rumah pak Bejo.

5. Petugas mencocokan transaksi id antara transaksi id yang dimiliki oleh pak Bejo dengan transaksi id yang ada di tanda penarikan uang.

6. Jika transaksi id cocok, Pak Bejo membuka Box dengan kode pembuka box yang diberikan oleh server bank sebelumnya. Misal: 210534. Kode yang diterima oleh pak Bejo sengaja dibedakan untuk menghindari pembukaan box di jalan oleh petugas pengantar/penjemput uang. Kode dapat dibedakan dengan mengacak urutannya(mirip proses enkripsi dan deskripsi), dsb.

7. Pak Bejo menghitung uangnya dan melakukan tanda tangan di bukti penerimaan.

8. Petugas menset kode box terbuka(kosong). misal kodenya 000000

9. Pak Bejo mengirimkan sms atau telp ke pihak desa untuk memberitahukan bahwa transaksi penarikan tunai dengan transaksi id sekian berhasil dilakukan.

Jika pak Bejo ingin melakukan penyetoran tunai:
1. Pak bejo menyiapakan uang yang akan disetor

2. Pak Bejo melakukan SMS banking seperti biasa dan menyebutkan nominal uang yang ingin disetor, misalnya Rp 500.000,00. Kemudian pihak server bank memproses data yang dikirim oleh pak Bejo.

3. Setelah data diproses, server bank menginformasikan kepada petugas yang ada di kantor desa untuk mengambil sejumlah uang berdasarkan data yang dikirimkan oleh pak Bejo

4. Petugas menuju rumah pak bejo dengan membawa box yang di set terbuka(kosong) dan tanda penyetoran uang. Misal untuk box yang terbuka kode di set 000000.

5. Petugas mencocokan transaksi id antara transaksi id milik pak Bejo dengan yang ada di surat penyetoran

6. Pak Bejo memasukkan uangnya ke dalam box dan memasukkan no pin tabungannya + no tambahan yang diberikan server bank sebelumnya sebagai kode pengunci box. misal: 0123456012. 0123456 adalah pin pak Bejo dan 012 adalah no tambahan yang diberikan oleh server bank.

7. Petugas kembali ke kantor desa.

8. Pihak desa menginformasikan ke pak Bejo bahwa box yang berisi uang telah diterima dan meminta pak Bejo untuk memberitahu no tambahan yang tadi diberikan oleh server bank, dengan sebelumnya mencocokkan transaksi id antara kedua belah pihak.

9. Pak Bejo memberitahukan no tambahan tersebut.

10. Box ditempatkan ditempat pensensoran box.

11. Petugas desa mensubmit no tambahan ke server bank dan mengisi data-data tambahan yang diperlukan untuk membuka box.

12. Server merespon, lalu jika no tambahan sesuai secara otomatis box yang ada di tempat pensensoran box akan terbuka dan petugas mengambil uang di dalamnya.

13. Petugas melakukan konfirmasi sekalilagi kepada pak Bejo mengenai nominal uang yang disetor.

Rencana Implementasi dan teknologi pendukung

Untuk melakukan implementasi pada sistem ini, kita membutuhkan kerjasama antara pihak perbankan dan pihak-pihak non perbankan:
1. Perangkat desa
Perangkat desa disini berperan sebagai wakil dari pemerintah dalam menjalankan sistem ini. Peran perangkat desa disini adalah memfasilitasi tempat untuk melakukan penyimpanan uang sementara dan sebagai tenaga pembantu administrasi dalam sistem ini. Tentu saja kantor desa yang dipilih harus di survei kelayakan terlebih dahulu.

2. Perbankan
Pihak perbankan akan berperan aktif dalam hal penyediaan fasilitas ini, mulai dari menyediakan tenaga kerja utama dalam transaksi ini, menyediakan perangkat komputer yang akan ditempatkan di kantor-kantor desa terpilih dan perangkat-perangkat tambahan lainnya yang dibutuhkan dalam installasi, dsb.

3. Operator Seluler
Pihak operator seluler juga merupakan pihak yang berperan aktif dalam mendukung transaksi perbankan berbasis SMS ini.

4. Pemuda-pemudi desa
Pemuda dan pemudi desa dapat kita percayai sebagai pengantar dan penjemput uang. Mengapa kita memilih pemuda dan pemudi desa? Hal ini dikarenakan, para pemuda dan pemudi lebih mengenal dan mengetahui seluk-beluk desa. Selain itu, resiko melarikan uang nasabah lebih kecil, karena para pemuda sudah dikenal oleh para nasabah, karena tinggal di desa yang sama. Tetapi, untuk menjadi petugas pengantar dan penjemput uang perlu dilakukan seleksi terlebih dahulu.

5. Kepolisian
Pihak kepolisian sebagai pihak yang menyediakan pos penjagaan di tiap-tiap kantor desa terpilih. Sehingga, keamanannya pun terjamin.

benefit
Dari sisi pemerintah:
Karena dalam sistem ini melibatkan warga desa dan perangkat desa seca keseluruhan maka,
1. Dapat mengurangi pengangguran yang ada di pedesaan
2. Dapat menekan arus urbanisasi, yang pada umumnya mengakibatkan kepadatan penduduk di kota-kota besar
3. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan
4. Meningkatkan pembangunan desa

Dari sisi dunia usaha:
1. Perbankan:
- Dapat menghimpun dana masyarakat lebih banyak lagi
- Lebih dekat lagi dengan masyarakat sehingga dapat menyalurkan program-program perbankan lainnya, yang tentu saja dapat mendatangkan keuntungan yang lebih besar.

2. Operator seluler:
- Menerima keuntungan dari pulsa dalam transaksi ini

Dari sisi masyarakat:
Lebih mudah jika ingin melakukan transaksi penarikan dan penyetoran tunai karena tidak perlu lagi pergi ke ATM atau kantor cabang bank yang pada umumnya berjarak jauh.

Dan secara keseluruhan, sistem tarik dan setor tunai via SMS Banking ini dapat diimplemenatsikan di kabupaten-kabupaten atau kota-kota di seluruh Indonesia, terutama yang jaringan kantor cabang bank dan ATM nya di kota atau kabupaten tersebut tergolong sedikit.

Sabtu, Januari 09, 2010

SMS-BANKING MEMPERMUDAH SEGALA URUSAN PERBANKAN

Teknologi SMS di jaman yang serba canggih dan instant bukanlah hal baru lagi. SMS yang merupakan kependekan dari Short Message Service adalah salah satu produk teknologi telekomunikasi berbasis nirkabel yang memungkinkan pengguna seluler untuk berbagi informasi secara singkat tanpa harus kehilangan maksud dan tujuan informasi didalamnya. Tarif murah yang menjadi unggulan dan dibarengi dengan keunggulan-keunggulan lainnya telah menghantarkan SMS menjadi salah satu produk telekomunikasi yang digandrungi di kalangan manapun.

Seiring perkembangan teknologi yang pesat, SMS yang awal mulanya hanya dikembangkan dalam dunia telekomunikasi saja disulap menjadi salah satu produk teknologi telekomunikasi yang mampu berkolaborasi dengan teknologi internet dan perbankan, atau yang biasa disebut SMS-Banking. Tujuannya pun sudah jelas yaitu untuk mempermudah manusia dalam melakukan segudang aktivitasnya, terutama yang berkaitan dengan bank.

SMS-
Banking mulai marak digunakan di Indonesia sejak tahun 2001 seiring berkembangnya pola pikir para pengelola industri perbankan yang ingin memanjakan nasabahnya. Untuk dapat menggunakan SMS-Banking para nasabah dapat menempuhnya melalui tiga cara sesuai kemampuan dari perangkat telepon seluler dan SIM Card nya, yaitu:
1. SMS Biasa
Transaksi dilakukan dengan cara mengirimkan SMS dengan kode tertentu ke nomor khusus yang telah disediakan oleh pihak bank.
2. Menu SIM Toolkit
Menu yang sudah terimplementasi pada SIM-Card, misalnya Life in hand (Pro XL)
3. Aplikasi Java
Seluler nasabah harus berteknologi Java dan terlebih dahulu harus menginstall aplikasi SMS-
Banking yang telah disediakan oleh bank bertalian. Tetapi dalam penggunaan SMS-Banking tidak perlu lagi mengirimkan kode-kode tertentu.

Dari ketiga cara tersebut, cara nomor satu merupakan cara yang sering digunakan para nasabah karena lebih fleksibel dan dapat diterapakan di berbagai SIM Card dan semua jenis perangkat telepon manapun.

Sms-Banking sebagai Bagian Sistem Informasi

Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi, SMS-
Banking bukan lagi hanya menjadi alat bantu dalam melakukan transaksi-transaksi perbankan, melainkan juga sebagai faktor pemampu industri perbankan dalam menjalankan bisnisnya. Kemudahan yang ditawarkan dan tanpa adanya batasan waktu, lokasi, dan jarak tempuh, SMS-Banking telah mampu memposisikan dirinya sebagai layanan yang menghadirkan kemudahan dalam mengakses transaksi-transaksi perbankan. Bahkan, saking mudahnya seakan-akan nasabah dibuat merasa menggenggam dunia perbankan di tangannya. Tentu saja hal ini sangat bertolak belakang dengan mesin ATM yang notabene dibatasi oleh lokasi, waktu dan jarak tempuh.

Jika dilihat dari segi pemakai, SMS-
Banking merupakan salah satu fasilitas perbankan yang ditujukan untuk para nasabah yang senang melakukan transaksi perbankan sendiri via elektronik(high tech), bukan ingin dilayani petugas bank secara langsung(high touch). Eksistensi SMS-Banking telah membuktikan bahwa kehadirannya sangatlah dibutuhkan di tengah-tengah aktivitas masyarakat yang sangat sibuk.

Pada dasarnya SMS-
Banking merupakan bagian dari suatu sistem yang sangat kompleks, yaitu sistem informasi. Jadi, supaya SMS-Banking dapat menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya masih terdapat dua komponen lagi yang dibutuhkan yaitu people dan bisnis proses.

People adalah orang-orang yang bersinggungan secara langsung dengan suatu sistem informasi. Dalam SMS-
Banking setidaknya terdapat tiga pihak yang memegang peranan penting. Mereka adalah:
1. System owner
Pemilik sistem yang bertanggungjawab atas pendanaan proyek pengembangan, pengoperasian, dan perawatan pada suatu sistem informasi(SMS-
Banking) yang biasanya terdiri dari jajaran manajemen.
2. Information System specialist
Pihak yang mengetahui bagaimana keberadaan bisnis proses layanan perbankan dan dapat menterjemahkannya menjadi suatu sistem informasi.
3. System user
Pihak yang memperhatikan kebutahan para nasabah(pengguna sistem eksternal), terutama para nasabah yang high tech.

Sedangkan pada bisnis proses, SMS-
Banking telah mendorong para pengelola industri perbankan untuk melakukan penyesuaian dalam proses bisnisnya terhadap fasilitas SMS-Content yang sebelumnya sudah ada. Tujuannya tak lain adalah untuk memastikan bahwa SMS-Banking dapat berjalan dengan baik dan dapat diterapkan di operator seluler manapun.

Keunggulan dan Kelemahan

Secara garis besar SMS-
Banking ditujukan untuk memberikan kemudahan kepada para nasabah dalam melakukan transaksi-transaksi perbankan, seperti pembayaran tagihan listrik, PAM, telepon, pengecekan saldo dan history transaksi terakhir atau transfer dana. Dan tentunya tanpa adanya batasan waktu, lokasi dan jarak tempuh. Sehingga, untuk mendukung hal tersebut SMS-Banking dilengkapi dengan beberapa keunggulan, diantaranya:
1. Tidak perlu mengantri di mesin ATM ataupun kantor bank.
2. Praktis, bisa dibawa kemana-mana.
3. Bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun.
4. Menghindari risiko kehilangan uang/harta atau risiko yang lebih besar lagi, seperti nyawa.
5. Tarif SMS yang relatif murah.

Walaupun demikian, ternyata SMS-
Banking pun masih terdapat beberapa kelemahan, misalnya:
1. Pemrosesan data yang terkadang lemot/lambat pada jam-jam tertentu.
2. Karena melibatkan dua buah server, yaitu server bank dan server operator seluler, maka jika salah satu server down akan mengganggu proses dalam bertransaksi.
3. Ketidakamanan yang mengancam setiap saat, seperti pencurian identitas.
4. Biasanya kurang bersahabat dengan orang-orang lansia.

Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut, yang perlu diperhatikan adalah:
1. Hindari melakukan transaksi perbankan melalui SMS-
Banking di jam-jam dengan traffic yang tinggi, misalnya pada saat jam tutup kantor. Karena kemungkinan server bank sedang melakukan back up data
2. Rahasiakan pin dari siapapun dan jangan menyimpan pin di dompet dalam bentuk kertas ataupun lainnya, serta jangan menyimpan pin di seluler. Gunakan pin yang unik, bukan tanggal lahir atau hal-hal yang mudah untuk ditebak bagi orang lain.
3. Lakukan pengecekan saldo sebelum dan sesudah transaksi. Hal ini untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan seandainya selisih antara saldo sebelum pengecekan dan saldo setelah pengecekan tidak sesuai berdasarkan transaksi yang telah dilakukan.
4. Gunakanlah public key dan private key yang digunakan oleh perbankan untuk verifikasi pada awal transaksi.
5. Lakukan penggantian pin secara berkala dan continue.
6. Laporkan kepada bank jika ada hal-hal yang mencurigakan.

Menganalisa hal di atas, sudah selayaknya SMS-
Banking dikembangkan tidak hanya menyediakan fitur-fitur sebatas pengecekan saldo, transfer uang, perubahan pin, informasi kurs, suku bunga tabungan, dll, serta pembayaran(misalnya tiket) dan pembelian(misalnya pulsa) atau yang biasa disebut dengan e-commerce. Tetapi kedepannya diharapkan SMS-Banking dapat memberikan kontribusi dalam hal lain, seperti:
1. Pembayaran pajak, karena pembayaran pajak via SMS-
Banking dirasa lebih mudah dan nyaman, tidak perlu mengantri di kantor pajak dan dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun. Jika pembayaran pajak semakin mudah, hal ini dapat membuka peluang untuk menambah jumlah orang yang membayar pajak dan tentunya secara otomatis merupakan penambahan pemasukan bagi kas negara.
2. Penarikan dan penyetoran uang tunai, karena selama ini SMS-
Banking hanya mampu melayani dalam bentuk non-tunai. Dan seandainya hal ini terwujud tentu akan sangat membantu para nasabah dalam melakukan penarikan dan penyetoran uang tunai, terutama untuk daerah-daerah pelosok(yang jauh dari kantor bank dan mesin ATM). Tetapi untuk transaksi yang satu ini tentunya dibutuhkan kerjasama dengan pihak lain yang non-perbankan.

Semoga harapan-harapan tersebut segera terwujud. Karena dengan SMS-
Banking mempermudah segala urusan perbankan.

Referensi:
http://smsaplikasi.blogspot.com/2009/12/sms-banking-transaksi-perbankan-di.html


Selasa, Desember 01, 2009

MENABUNG

Anak dalam gendongan mbak Tin belum diam. Semakin mbak Tin berusaha menenangkannya, tangisan Alan semakin pecah. Mbak Tin pun kuwalahan menanganinya.

“Cup-cup sayang.” Sambil menepuk-nepuk pantat anaknya.

“Mungkin Alan lapar mbak.”

“Ngak lah, lha wong habis makan. Kelihatannya ngantuk, soalnya dari tadi pagi dia belum tidur sama sekali.“

“Ehm… Kalau gitu baringkan saja mbak di kasur dalam rumah, kasihan mbak kalau harus gendongin dia terus. ”

“Yo wis, tapi tolong jagain jemuran gabah mbak, takut dicekerin sama ayam.”

“Ya mbak.”

Mbak Tin pun menuju kamar untuk menidurkan anaknya. Setelah menidurkan anaknya, dia kembali ke jemuran gabah.

“Le, gimana kuliahnya? Lancar nggak?”

“Alhamdulillah lancar. Kenapa mbak?” melirik ke arah mbak Tin yang duduk disampingku.

“Nggak kenapa-napa, Cuma pingin tahu saja. Terus gimana nilainya?”

“Alhamdulillah bagus, semester satu kemarin IP aku 3,90 dan yang semester dua 4,00.”

“Puh…puh...puh…tinggi banget le IP-mu.” menunjukkan ekspresi keheranan dan mengelus-ngelus kepalaku.”Adikku yang ini mang benar-benar pintar.”

“Amin…Ini semua kan berkat do’a mbak juga, tanpa do’a mbak mungkin aku belum bisa mencapai nilai segitu.” Jawabku dengan malu-malu.

“Yo ngono…, sampeyan kan anaknya orang kurang mampu, mumpung dapat rejeki bisa kuliah gratis, sampeyan harus menunjukkan ke pemberi beasiswanya sampeyan bahwa sampeyan bisa bersaing dengan orang-orang kota, walaupun sampeyan dari desa.”

“Ya mbak...”

“Oia mbak, kemarin aku kan ngenet, terus aku nyari-nyari informasi di Google tentang tabungan. Kalau menurut aku, apa nggak sebaiknya dari sekarang mbak mempersiapkan tabungan masa depan buat Alan, terutama tabungan pendidikannya. Kan, kita sama-sama tahu bahwa pendidikan sekarang cukup mahal, bahkan tiap tahun mengalami kenaikan, jadi kalau mbak mempersiapkannya dari sekarang mungkin kedepannya tidak terlalu berat dalam membiayai pendidikan Alan.”

Mendengar ucapanku, mbak Tin tersenyum dan menatap mataku. Aku pun tertunduk malu dan takut, aku takut kalau apa yang telah aku ucapkan tadi menyinggung perasaannya karena aku dianggap telah mengguruinya.

“Huh...” Mbak Tin menghela napas panjang dan mengehmbuskannya. “Emangnya orang-orang seperti mbak boleh nabung, bukannya tabungan itu buat orang-orang yang berduit saja.”

Segera aku mengangkat wajahku dan menatap balik mata mbak Tin. Entah kekuatan dari mana aku menjadi berapi-api untuk mejelaskan sedikit pengetahuanku tentang dunia perbankan yang baru saja aku peroleh kemarin sore. “Ya, nggak mbak. Orang-orang seperti kita pun juga berhak menabung di bank, tidak hanya orang-orang yang beduit saja. Kan salah satu tujuan bank didirikan adalah untuk menghimpun dana dari masyarakat, tidak peduli golongan bawah, menengah atau atas, terus dana tersebut biasanya akan disalurkan kembali kepada pihak-pihak yang membutuhkan dengan tingkat bunga yang berbeda-beda di tiap bank, tergantung kebijakan masing-masing bank. Selain itu, kalau kita menyimpan uang di bank, uang kita akan dijamin keamanannya, terus kita juga akan dapat kontribusi dari bank atau yang biasa disebut dengan bunga, besar kecilnya bunga yang kita peroleh tergantung dari besar kecilnya uang yang kita simpan di bank. Dan yang paling penting adalah dengan menabung di bank kita turut serta dalam melakukan pembangunan negeri ini mbak.”

“Tapi le, mbak takut.”

“Takut kenapa mbak, kan bank nggak bisa nggigit?” cetusku.

“Hahaha… emangnya kucing, nggigit. Kalau aku nyimpan uangnya di bank, terus aku mau ngambilnya gimana? Lagian kata orang kalau menabung di bank itu ribet, suruh ngisi kolom-kolom gitu mirip ujian sekolah, mbak kan ga terlalu paham, lagian gaji masmu tiap bulan kan cuma Rp 500.000,00, mangnya bisa buat nabung? Kan, kata orang-orang pertama kali menabung itu butuh uang yang gede.”

“Mbak…” aku mengambil napas panjang dan membuangnya. “Nggak semua yang dibicarakan orang itu benar, tapi juga nggak semuanya salah. Mang benar waktu pertama kali menabung membutuhkan setoran awal, tetapi setoran itu tidaklah terlalu besar, biasanya setoran awalnya paling kecil Rp 50.000,00 atau Rp 100.000,00, itu semua tergantung kebijakan masing-masing bank, sehingga dengan gaji mas Puji yang segitu tadi mbak sudah bisa membuka tabungan di bank. Uang yang sudah ditabung juga bisa diambil kapanpun kok. Dan untuk pengisian kolom-kolom yang tadi, hanya dilakukan pada saat kita pertama kali membuka tabungan, biasanya cuma berisi informasi data diri kita dan itu pun pasti akan dipandu oleh pihak bank dalam mengisinya. Setelah mengisi kolom-kolom tersebut, nanti mbak akan diberi buku tabungan dan biasanya juga diberi kartu ATM, jadi lewat buku tabungan tersebut mbak bisa mengontrol dan mengawasi keuangan mbak yang disimpan di bank. Selain itu mbak, dengan kartu ATM yang diberi bank tadi, mbak bisa berbelanja di beberapa toko yang bekerjasama dengan bank tersebut tanpa harus membawa uang tunai, jadi lebih aman dan simple mbak. Di samping itu, melalui bank mbak juga sudah bisa membayar tagihan listrik, PAM, dan telepon. Dan tentunya masih banyak lagi keuntungan-keuntungan yang dapat mbak Tin nikmati. Gimana mbak? Apa nggak tertarik?” bujukku.

Ku lihat raut muka mbak Tin mulai agak berseri-seri, mungkin ini pertanda baik bahwa dia mau menabung di bank. “Yo wis… aku bilang dulu ke masmu. Tapi beneran kan bisa diambil kapan-kapan kalau mbak butuh uang?” menatapku dengan tajam dan dengan nada yang tegas.
“Ya mbak, InsyaAllah bisa.” Kataku untuk meyakinkannya.

**
Keesokan harinya, ketika aku sedang mencuci motor kakekku. Terdengar suara memanggil-manggil namaku dari kejauhan.

“Put…Put…Put.” Aku tengok kanan dan kiri, ternyata itu suara mbak Tin.

“Kenapa mbak?“ tanyaku.

“Antarin mbak ya.”

Aku yang melihat raut muka mbak Tin yang berseri-seri mencoba untuk menerka apa yang sedang dipikirkannya.

“Ngantar kemana mbak? Ke Bank? Hehehehe…” celetukku.

“Iya… seperti yang kamu bilang kemarin, kata kamu kan nabung di bank itu banyak keuntungannya dan mbak pikir nggak da salahnya mulai dari sekarang mbak dan masmu mempersiapkan tabungan masa depan untuk Alan, terutama pendidikannya, biar mbak dan masmu nggak terlalu berat di masa yang akan datang. Makasih ya sarannya.”

“Ya mbak… ya sudah tunggu sebentar ya mbak, 15 menit lagi aku jemput mbak di rumah mbak, soalnya aku tinggal sedikit lagi mencuci motornya dan sekalian aku mandi.”

“Yo wis, mbak juga mau siap-siap.” Sambil pamit pulang.

Selesai membersihkan motor dan siap-siap, segera aku tancap gas untuk meluncur ke rumah mbak Tin.

“Yut…Buyut… mbak Tin mana yut?” tanyaku.

“Tin…Tin…adikmu sudah datang lho…Buruan berangkat sana, dandan dari tadi kok nggak kelar-kelar.” Teriak buyutku dari teras rumahnya.

“Ya…ya… ini juga sudah selesai.” Sambil berjalan keluar dari kamar. Dan aku pun memutar balik motorku untuk siap-siap meluncur ke bank terdekat. Kemudian aku menghidupkan motorku.

“Le, ntar di sana waktu buka tabungan butuh berapa lama?” sambil naik ke boncengan motor

“Ya…. Kalau nggak antri paling 20 menit juga selesai. Gimana mbak? Sudah siap belum?”

“Sudah… yo wis… ayo berangkat.”

“Yut, berangkat dulu… Assalammu’alaikum…” kata kami berdua

“Wa’alaikumsalam… hati-hati di jalan.”

“Nggeh…”

Akhirnya, kami pun meluncur ke bank terdekat.

**
Kira-kira kami di bank sekitar 30 menit dan setelah selesai membuka tabungan kami pun berangkat pulang. Dalam perjalanan pulang mbak Tin terus mengajak aku bercakap-cakap.

“Owalah le… ternyata membuka tabungan itu nggak ribet-ribet amat, malahan mudah.
Ternyata nggak sama dengan yang orang-orang omongin selama ini, yang katanya ribet lah, susah lah, dll.”

“Ya… gitulah mbak. Mang nggak ribet kok.”

“Kalau tahu gini, sejak dari dulu aja mbak menabung di bank dan mulai besok saya mau kasih tahu orang-orang sekitar rumah dan teman-teman arisan mbak, ternyata membuka tabungan di bank itu nggak ribet dan tentunya dapat banyak keuntungan, terutama aman dan bunganya itu lho.”

“Sip…sip…”

Aku sangat senang dan kaget ketika mendengar mbak Tin berucap seperti itu. Senang karena dia akan memberitahu orang lain untuk menabung di bank dan kaget karena ternyata di desaku masih banyak orang-orang yang belum mengetahui tentang keunggulan-keunggulan apa saja yang akan diperoleh nasabahnya jika menabung di bank. Tapi aku memakluminya, karena desaku memang agak pedalaman. Akan tetapi kalau dipikir-pikir lagi, “Apakah kita sebagai orang pedalaman tidak berhak mendapatkan sosialisasi tentang dunia perbankan? Padahal setahu aku, orang-orang pedalaman atau desa itu mempunyai cukup uang untuk menabung di bank, bahkan cukup banyak. Cuma pada umumnya mereka tidak tahu kalau ternyata ada lembaga keuangan yang dapat menghimpun dana mereka, sehingga menyimpan uang di bawah kasur menjadi pilihan mereka.” Kataku dalam hati.

Mudah-mudahan setelah membaca cerpen ini, suatu saat akan ada orang-orang atau lembaga-lembaga keuangan seperti bank yang memberikan sosialisai tentang dunia perbankan, tidak hanya di desaku saja tetapi di desa-desa yang lain juga. Itu semua karena Dengan Bank Yang Sehat Bangunlah Desanya Bangunlah Negaranya.

Senin, November 30, 2009

MENATA MASA DEPAN BERSAMA TABUNGAN PERENCANAAN

Tak terasa, sudah setahun lebih aku hidup di Jakarta. Arus uang dan informasi yang begitu cepat memaksaku untuk berpikir keras bagaimana caranya memanajemen keuanganku.

Mahalnya makanan di Jakarta, terkadang membuatku kelimpengan di akhir bulan. Mungkin bukan hanya aku yang mengalami ini, tetapi masih ada teman-teman lain yang senasib dan sepenanggungan, terutama anak daerah.

Malam hari suasana Jakarta sangat jauh berbeda dengan suasana perkampungan. Di kampung hanya suara kodok dan jangkrik yang memecah keheningan malam, tetapi di Jakarta suara klakson dan suara pedagang kaki lima masih mendominan.

Dari lantai dua, aku melihat banyak pedagang kaki lima wira-wiri di depan kontrakan, ada nasi goreng, nasi gila, bakso, somay, empek-empek, ketoprak, dan lain-lain. Terkadang aku merasa iba dengan mereka, masih bekerja di saat yang lain mengistirahatkan badannya. Terlintas di benakku, “Mengapa mereka bisa seperti itu? Bagaimana dengan masa depannya dan keluarganya? Bagaimana kehidupan ekonomi mereka?” Dan masih banyak lagi seliweran-seliweran pertanyaan lainnya. Kalau di kampung masih mending, karena sayur dan lauk bisa di dapat dari sawah dan kali. Tapi kalau di sini? Rumput ja mau tumbuh pikir-pikir.

Semakin kuresapi, semakin takut aku memikirkan masa depanku. “Masa depanku gimana ya? Jauh beda nggak sama para pedagang itu? Gimana kalau dah berkeluarga?” Dan masih banyak lagi hal-hal yang membuatku semakin abstrak memikirkan masa depanku. Memang benar kata emakku yang di kampung, semakin dewasa akan semain banyak hal yang harus dipikirkan. Sedikit melenceng dari konteks masa depan, aku bukanlah anak orang yang bercukupan secara materi. Tapi, aku merasa beruntung karena bisa kuliah, yaitu dengan beasiswa.

Ketakutanku memikirkan masa depan, mendorongku mengeluarkan laptop yang diberi pemberi beasiswaku dari dalam tas. Ku kunjungi mbah google dan kuketikkan kata “MERENCANAKAN MASA DEPAN.” Dalam hitungan sepersekian detik, berlembar-lembar dokumen sudah mengantri untuk siap dibuka.

Ku klik salah satu dokumen, disebutkan bahwa mengatur atau merencanakan masa depan bisa melalui jasa perbankan. Dengan sigap, segera aku membuka berbagai situs perbankan.

“Tumben Yas, ngunjungi situs perbankan, biasanya Facebook terus yang dikunjungi.” Ledek salah satu teman yang duduk disampingku.

“Lagi berpuasa dari facebook. Hahahaha…. Nggak gitu juga, aku merasa setahun ini sering membelanjakan uangku untuk hal-hal yang nggak begitu perlu, maka dari itu aku buka situs perbankan, siapa tahu aku bisa nemu solusinya.” Kataku.

“Aduh, kata-kata terakhirnya tu yang nggak nahan, tapi kalau emang kayak gitu mendingan kamu buka tabungan perencanaan saja.” Jawab temanku.

“Tabungan Perencanaan?” Tanyaku sambil melirik ke arahnya.

“Ya, tabungan perencanaan…Jadi, tiap bulan uang kamu yang ada di rekening bakalan di autodebet secara otomatis tanpa perlu datang langsung ke bank yang bersangkutan. Dan proses autodebet tersebut akan dilaksanakan sesuai tanggal yang telah disepakati bersama, yaitu antara pihak bank dan kamu, serta uang yang akan di autodebet pun sesuai dengan kesepakatan bersama juga. Bunganya juga lebih gedhe lhooo daripada tabungan biasa.” Jawabnya cukup gamblang.

“Wah, enak juga tuh…dah nggak perlu datang ke bank yang bersangkutan, bunganya lebih gedhe lagi. Tapi cara bukanya gimana? Trus kita ngecek jumlah uang yang dah ditabung gimana?” Tanyaku penasaran.

“Perasaan sedang buka situs perbankan deh, lihat ja di situ, kan ada…” jawab temanku sambil menunjuk laptopku yang menyala.

Menit demi menit aku menggulung scroll naik turun. Ku baca tiap detail informasi yang berkaitan dengan tabungan perencanaan. Satu demi satu situs perbankan aku kunjungi, mulai dari situs bank A sampai bank Z. Ku pelototi layar laptop di depanku dengan seksama. Halaman demi halaman telah aku baca. Dari sanalah aku mendapatkan informasi bahwa banyak sekali keuntungan-keuntungan yang akan didapat bila menabung dalam bentuk tabungan perencanaan, diantaranya mendapatkan suku bunga yang lebih tinggi daripada tabungan biasa, mendapatkan asuransi, jangka waktu menabung yang fleksibel, dapat menambah dana di luar setoran bulanan, belajar hidup disiplin dan berkomitmen. Dan untuk pengecekan uang yang telah disetor, pihak bank juga telah menyediakan fasilitas pengecekan, ada yang via ATM, internet, rekening koran, dan lain-lain.

Dalam suatu artikel, di salah satu situs berita di internet, dikatakan bahwa “Kegagalan atau kekurangan yang acap kali terjadi ketika kita hendak menabung umumnya disebabkan oleh beberapa kondisi berikut ini. Pertama, kurangnya kedisiplinan kita dalam menabung sejumlah uang secara teratur setiap bulan. Dalam hal ini, kita cenderung menunda keinginan untuk menabung karena kita merasa tidak ada kewajiban yang hakiki untuk melakukannya.”

“Kedua, godaan untuk menarik dana dari tabungan yang kita miliki guna memuaskan kebutuhan belanja yang tidak perlu. Ketiga, umumnya kita merasa bahwa kita membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa mengakumulasi jumlah uang dalam jumlah besar melalui skema menabung.”

“Akibatnya, kebiasaan menabung yang seharusnya kita lakukan terkendala dengan fenomena tersebut. Bila komitmen untuk menabung sering kali terkendala dengan munculnya beragam kesalahan tersebut, adakah solusi yang bisa kita terapkan untuk mewujudkan impian atau aspirasi kita di masa depan?” Jawabanya “Ada, yaitu tabungan perencanaan.”

Jika ditilik dari slogan “3P” yang telah diluncurkan oleh bank sentral Indonesia, menurut aku tabungan perencanaan sudah memenuhi kriteria tersebut, bahkan cukup baik. Pertama, Pastikan Manfaatnya. Tabungan perencanaan lebih unggul dalam pemberian suku bunga(lebih tinggi), terdapat asuransi, mendidik para nasabahnya untuk hidup disiplin dan berkomitmen, dan membidik target perencanaan masa depan nasabahnya lebih tepat daripada tabungan biasa.

Kedua, Pahami Risikonya. Dalam hal ini, menurut aku tabungan perencanaan tidak begitu memberikan risiko yang signifikan asalkan kita mematuhi term & conditions yang disepakati bersama. Bahkan, di sisi lain tabungan perencanaan memberikan kita perlindungan asuransi jika nasabah mengalami ketidakmampuan total tetap atau meninggal dunia.

Ketiga, Perhatikan Biayanya. Jika dilihat dari segi biaya, menurut aku biaya administrasi, dan lain-lain yang dibebankan tidaklah besar. Justru keuntungan yang akan didapatkan jauh lebih besar.

Berdasarkan fakta-fakta itulah aku semakin tertarik untuk mencoba tabungan perencanaan. Karena TABUNGAN PERENCANAAN MEMBANTU KITA MENATA MASA DEPAN.

Kedepannya, aku berharap tabungan perencanaan akan semakin dilirik dan dinikmati oleh nasabah perbankan di seluruh Indonesia. Hal ini dikarenakan kemudahan, kedisiplinan, dan kenyamanan yang ditawarkan. Di sisi lain, aku berharap tabungan perencanaan tidak hanya melayani perencanaan-perencanaan untuk sebuah keluarga atau individu, tetapi juga melayani perencanaan pendidikan seperti kegiatan study tour dan research, bazaar, hari ulang tahun sekolah, dan lain-lain. Dan mungkin juga bisa dikembangkan lagi untuk perusahaan atau corporate, misalnya membantu perencanaan pengadaan training karyawan, kegiatan reuni, dan lain-lain.

Sabtu, Juni 27, 2009

Mengenal Syariah Banking

Setelah cukup penat dengan dunia kampus membuka facebook bagi saya adalah wajib a'in yang tidak boleh ditinggalkan, kudu dan harus because karena sebab amarga lan jalaran bagi saya facebook itu 4 SKS. Padahal aktivitas saya di facebook cuman nulis komen sana sini, ikutan quiz dan maen game, serta chatting dengan teman-teman dunia maya saya. Tapi bagi saya, hal itulah yang memberikan angin segar di sela-sela tugas kampus yang semakin hari semakin memangkas waktu liburan.

Pernah sekali, saya berapi-api ketika chatting dengan lawan chatting saya yang berasal dari Malang. Saat itu kami membahas tentang PERBANKAN SYARIAH. Saya yang buta dengan hal tersebut dengan segera mengawali pertanyaan dengan “Apa ce syariah itu?” kepada lawan chatting saya.

Kebetulan lawan chatting saya ini adalah orang cendekiawan, jadi dengan gampangnya dia menjawab setiap pertannyaan – pertannyaan yang saya sodorkan kepadanya. Tapi lama-kelamaan saya kasihan juga padanya, karena pertanyaan saya tidak ada henti-hentinya bak hujan yang turun dengan lebat. Yang paling saya takutkan kalau jari-jari tangannya akan keriting karena menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang terlalu banyak.

Dengan senang hati saya mengucapkan terimaksih kepadanya, yang juga merupakan pertanda akhir dari chatting kami berdua.

Saya yang masih menyimpan segudang pertannyaan di benak saya segera mengetikkan kata “Perbankan Syariah” di mbah GOOGLE. Cukup dengan hitungan seper sekian detik, dokumen-dokumen tentang perbankan syariah bermunculan. Satu persatu saya klik link yang menjelaskan tentang perbankan syariah. Berjam-jam saya melototi layar laptop saya, sampai mata saya terasa perih. Tapi dari situlah saya memperoleh sebuah pengetahuan baru bahwa jika saya tarik garis lurus dari setiap dokumen-dokumen syariah yang saya baca, saya mendapatkan satu titik temu bahwa perbankan syariah itu adalah suatu sistem perbankan yang memiliki prinsip bagi hasil yang memberikan alternatif yang saling menguntungkan bagi masyarakat dan bank, mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan serta aspek keadilan dalam bertransaksi dan berinvestasi, serta menghindari kegiatan spekulatif dalam bertransaksi keuangan. Mungkin dengan produk-produknya perbankan syariah dapat menjadi alternatif dalam sistem perbankan yang kredibel dan dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat.

Mendadak jiwa ekonom saya muncul, “Kalau memang perbankan syariah memberikan manfaat kepada masyarakat dan bank, bukankah hal itu sama dengan bank-bank umum lainnya?“

Oh iyo yo…. (dalam hati saya).” Akan tetapi, meskipun demikian, saya merasa seperti ada hal kecil yang penting yang terlewatkan. Kemudian saya pun memeras otak saya. Dalam beberapa menit, terlintas suatu pemikiran bahwa pasti ada sesuatu yang berbeda dan unik dari perbankan syariah ini.

Secara reflek tangan saya yang masih gatel segera mengetikkan kata perbankan syariah lagi di mbah GOOGLE. Tapi kali ini saya lebih fokus terhadap dampak positif atau contoh-contoh kesuksesan yang berkaitan dengan perbankan syariah.

Dalam pencarian banyak sekali dampak-dampak positif atau contoh-contoh yang saya temukan. Tapi dari kesemuanya ada satu yang memaksa saya untuk meliriknya, dimana dalam satu berita disebutkan bahwa perbankan syariah tidak terkena imbas dari krisis ekonomi global.

Dari prestasi itulah, saya menyimpulkan bahwa itulah sebabnya perbankan syariah memberikan manfaat kepada masyarakat dan bank yang bersangkutan, bahkan suatu Negara. Coba Anda pikir, jika bank syariah tidak terkena imbas dari krisis ekonomi global yang notabene krisis ekonomi global adalah sesuatu yang akhir-akhir ini menjadi virus yang melumpuhkan suatu perekonomian di suatu Negara, berarti bank syariah yang merupakan salah satu pilar-pilar ekonomi yang penting di suatu Negara dapat membantu Negara tersebut dalam menyejahterakan warga negaranya. Mengapa demikian? Hal ini dapat diibaratkan dengan suatu rumah yang jika salah satu pilar pentingnya saja kurang kuat, maka dengan mudahnya roboh diterpa oleh angin dan hujan. Hasil yang berbeda akan ditunjukkan jika pilar-pilar penting ini kuat, maka suatu rumah pun juga akan berdiri kokoh. Semakin kokoh suatu rumah maka sebesar apapun terpaan angin dan hujan tak akan mengganggu kenyamanan penghuninya, dimana rumah dan penghuninya adalah Negara dan rakyatnya.

Harapan saya pun tidak muluk-muluk. Semoga semakin ke depan perbankan syariah akan semakin berjaya.

Dengan syariah semua tenang semua senang.