Tampilkan postingan dengan label banyuwangi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label banyuwangi. Tampilkan semua postingan

Kamis, November 27, 2008

Ular Raksasa memasuki Pesantren

Seekor ular berukuran raksasa ditemukan di Pesantren Nurus Sholah, Dusun Trebungan Barat, Desa Trebungan, Kecamatan Mangaran. Ular jenis Python itu kini menjadi tontotan masyarakat Mangaran dan sekitarnya.

Hingga kemarin, ular yang panjangnya lebih dari lima meter itu masih menarik minat masyarakat untuk melihatnya dari dekat. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, ular disimpan di sebuah kotak berkawat.

Ular Python itu mempunyai berat hampir satu kwintal. Diamater tubuhnya lebih dari 30 cm. “Makannya burung merpati. Dikasih kodok dan ayam tidak dimakan,” terang salah seorang santri, Aisyah.

Uular tersebut ditemukan oleh KH Saddam Husain sekitar pukul 03.00 dini hari pekan lalu. Kini ular itu mendatangkan sedikit berkah bagi pesantren. Minimal, orang yang menonton memberikan sumbangan seikhlasnya. (pri/aif)

PARIPURNA dihadiri 15 orang

BANYUWANGI – Mayoritas anggota DPRD Banyuwangi tidak hadir dalam rapat paripurna kemarin (25/11). Dari 45 anggota dewan, hanya 15 orang yang mau mengikuti paripurna penyampaian nota penjelasan Raperda pembahasan Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) APBD 2008 tersebut.

Tidak jelas, apa penyebab tidak hadirnya sebagian besar anggota DPRD dalam paripurna yang membahas PAK itu. Yang pasti, tiga orang anggota dewan absen karena sedang menunaikan ibadah haji. Mereka itu adalah Soekardi, Nasiroh, dan Zainal Arifin Salam.

Dengan demikian, anggota DPRD yang ada tersisa 42 orang. Namun yang hadir dalam rapat paripurna hanya 15 orang. Sedangkan 27 orang wakil rakyat tidak hadir dalam rapat tersebut.

Beberapa anggota dewan menyebutkan, pembahasan PAK APBD 2008 tersebut kurang mendapat dukungan dari sebagian besar anggota DPRD. Mereka tidak mendukung, karena khawatir ada persoalan hukum di kemudian hari. Alasannya, pembahasan PAK itu sudah melewati batas waktu dan ketentuan yang digariskan Undang-Undang.

Menurut sumber terpercaya di DPRD, pembahasan PAK itu memang disepakati para pimpinan fraksi. Namun sebagian anggota dewan mengaku tidak diajak bicara untuk memutuskan persoalan PAK tersebut. Karenanya, mereka memilih tidak hadir dalam rapat paripurna yang dihadiri langsung Bupati Ratna Ani Lestari dan Wakil Bupati Yusuf Nuris itu.

Awalnya, anggota yang hadir dalam rapat paripurna yang dipimpin Wakil Ketua DPRD Yusuf Widyatmoko itu sekitar 12 orang. Namun menjelang rapat usai, tiga anggota DPRD yakni Choiri Zein, Saut Marisi Siahaan dan Syamsul Arifin terlihat memasuki ruang rapat utama gedung DPRD.

Yang tampak menyolok, Wakil Ketua DPRD HM Eko Sukartono juga tidak menghadiri rapat paripurna itu. Padahal saat rapat paripurna berlangsung, mobil dinas Eko Sukartono terlihat pakir di halaman belakang kantor DPRD.

Meski hanya dihadiri 15 anggota DPRD, Bupati Ratna Ani Lestari tetap menyampaikan nota penjelasannya. Menurut Bupati Ratna, PAK harus tetap dibahas. Ini karena terjadi perubahan pada sesi pendapatan dan belanja dalam APBD 2008. Pada sesi belanja tidak langsung, setelah PAK mengalami kenaikan sekitar Rp 42 miliar. Sedangkan pada sesi belanja langsung, mengalami kenaikan Rp 2 miliar lebih. “Pada sesi pendapatan juga mengalami kenaikan,” tegas Ratna.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Yusuf Widyatmoko menegaskan, rapat paripurna penyampaikan nota penjelasan atas diajukan Raperda PAK APBD 2008 itu tidak harus kuorum. Walau jumlah anggota DPRD yang hadir sangat minim, rapat paripurna tersebut tetap sah.

Yusuf mengaku, dirinya tidak tahu kenapa sebagian besar anggota dewan tidak menghadiri rapat paripurna tersebut. Apakah anggota yang tidak hadir itu tidak sepakat dengan “Rapat tadi tidak harus kuorum. Karena tidak mengambil keputusan,” ujar Yusuf.

Sementara itu, Ketua Fraksi Partai Golkar Julies Setyo Puji Rahayu membantah adanya anggota DPRD yang tidak sepakat dengan pembahasan PAK APBD tersebut. Kalau anggota DPRD ada yang tidak sepakat dengan pembahasan PAK, rapat paripurna tidak mungkin terjadi. Sebab, rapat paripurna itu sudah dijadwalkan oleh Panitia Musyawarah (Panmus). Dalam Panmus itu ada anggota DPRD dari lintas fraksi. “Saya nggak tahu kenapa mereka tidak hadir. Yang pasti, anggota Fraksi Golkar hadir,” katanya.

Sementara itu, Ketua Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDIP) Hermanto terlihat hadir dalam rapat paripurna tersebut. Dua anggota fraksi tersebut juga terlihat ikut hadir. Padahal sebelumnya, FPDIP ngotot menolak untuk membahas PAK APBD 2008. Sedangkan empat fraksi lainnya, memilih berkompromi dengan keinginan eksekutif untuk membahas PAK.

Keputusan FPDIP itu menolak membahas PAK itu disampaikan Hermanto tanggal 11 November 2008 lalu. Hal itu dilakukan, setelah mereka mendengarkan hasil konsultasi DPRD dengan Mendagri dalam paripurna internal tanggal 11 November 2008 lalu. “Secara normatif, UU mengamanatkan pembahasan dan pengesahan PAK APBD itu harus dilakukan tiga bulan sebelum tahun anggaran berakhir,” tegas Hermanto pada waktu itu (11/11).

Karena waktu yang diberikan UU tidak memungkin, maka fraksinya memutuskan untuk menolak pembahasan PAK APBD 2008. “Dari pada menanggung resiko hukum di kemudian hari, kita lebih baik menolak,” tegasnya tanggal 11 November 2008 lalu.

Pada saat itu, Herman mengaku tidak mempersoalkan sikap fraksi lain yang setuju dilakukannya PAK terbatas. Hanya, dia tidak percaya PAK hanya akan dilakukan terhadap anggaran yang sangat urgen saja. Salah satu buktinya, dalam draft PAK APBD yang diserahkan ke DPRD, banyak anggaran yang sengaja disusupkan oleh eksekutif. “Bohong besar kalau PAK itu hanya akan mengakomodir gaji pasukan kuning dan tunjangan profesi guru saja,” ungkap Herman.

Terkait dengan tunjangan tenaga kependidikan, Herman berpendapat sebaikan dimasukkan dalam APBD 2009. Lagi pula, walaupun tidak PAK, anggaran yang berasal dari DAU tidak akan hangus dan masih bisa dirapel dalam pembahasan APBD 2008. “Dari pada membahas PAK, lebih baik kita membahas APBD 2009 agar tidak terlambat,” sarannya ketika itu.

Hermanto mengatakan, selama ini DPRD seringkali digunakan eksekutif untuk melegalisasi kesalahan yang dilakukannya. Karena itu, Fraksi PDIP tidak ingin lembaga DPRD hanya dijadikan sebagai alat untuk memperbaiki kesalahan yang diperbuat bupati dan jajarannya. “Sekali lagi, tidak mungkin PAK hanya akan membahas gaji pasukan kuning saja. Anggaran yang tidak urgen untuk rakyat juga diikutkan dalam pembahasan PAK,” kritiknya waktu itu.(afi/bay)radar-banyuwangi.com

Gimana menurut Anda?
(leave your opinion)

Rabu, November 26, 2008

About ijen



Pemandangan spektakular pada ketinggian 30,000ft dari jendela sebelah kiri pesawat Surabaya-Denpasar melahirkan sebuah pertanyaan tentang lokasi sebuah danau berwarna hijau tosca di ketinggian 2,000-an meter. Danau tsb sepertinya berada didalam kawah dengan dinding kaldera setinggi 300-500m. Sebuah puncak gunung menjulang berada disampingnya. Asap putih yang mengepul dari salah satu kawahnya membumbung tinggi ke udara, menjadikannya kontras dengan lingkungan sekitarnya yang berwarna hijau jade.

Kawah tsb. ternyata bernama kawah Ijen, terletak di Banyuwangi, Jawa Timur. Spot ini pernah dipublikasikan dan terkenal di Perancis melalui tayangan Ushuwaia Adventure yang memperlihatkan Nicolai Hulot sang-penjelajah, duduk diatas perahu karet bercerita ttg asal-usul danau Ijen dengan derajat keasaman nol, memiliki kedalaman 200 meter dan volume hampir 40 juta meter kubik, salah satu danau kawah terbesar didunia. Keasamannya cukup kuat untuk melarutkan pakaian dan jari jemari. Pandangan bird view kamera helikopter itu kemudian beralih ke tepi kaldera yang memperlihatkan penambang2 kawah ijen sedang berjuang mendaki memikul puluhan kilogram muatannya.

Kawah Ijen ternyata mudah untuk dikunjungi melalui Banyuwangi atau Bondowoso. Keunikan yang utama dari wisata Kawah Ijen selain dari pada panoramanya yang sangat indah adalah melihat penambangan belerang tradisional yang diangkut dengan cara dipikul tenaga manusia. Penambangan tradisional ini konon hanya terdapat di Indonesia saja (Welirang dan Ijen). Beban yang diangkut masing-masing per orangnya sampai seberat 85kg. Beban ini luar biasa berat buat kebanyakan orang, manakala belerang diangkut melalui dinding kaldera yang curam dan 800m menuruni gunung sejauh 3km. Penghasilan yang diterima seorang pemikul rata-rata 25 ribu rupiah per harinya, atau sekitar 300 rupiah per kilonya. Seorang pemikul biasanya hanya mampu membawa turun satu kali setiap harinya, karena beratnya pekerjaan. Beberapa ratus meter terdapat sebuah bangunan bundar kuno peninggalan Belanda bertuliskan “Pengairan Kawah Ijen”, yang sekarang disebut sebagai Pos Bundar, sebuah pos dimana para penambang menimbang muatannya dan mendapatkan secarik kertas tentang muatan dan nilainya.

Perjalanan wisata ke kawah Ijen, dimulai dari Paltuding 1,600 mdpl, sebuah pos Perhutani di kaki gunung Merapi- Ijen. Dari sini jalan tanah terus menanjak ke ketinggian 2,400m dpl dengan waktu tempuh 2 jam jalan santai. Sepanjang perjalanan banyak berpapasan dengan pemikul belerang yang ramah bertukar salam. Tiba di bibir kawah, pemandangan menakjubkan berada di depan mata. Sebuah danau hijau tosca dengan diameter 1 km berselimutkan kabut dan asap belerang berada jauh dibawah. Penambang-penambang belerang terlihat kecil dari atas. Untuk menuju ke sumber penghasil belerang tsb., kita perlu menuruni bebatuan tebing kaldera melalui jalan setapak yang dilalui penambang. Sapu tangan basah sangat diperlukan, karena seringkali arah angin bertiup membawa asap menuju ke jalur penurunan.

Didasar kawah, sejajar dengan permukaan danau terdapat tempat pengambilan belerang. Asap putih pekat keluar menyembur dari semacam pipa besi yang dihubungkan ke sumber belerang. Lelehan 600oC fumarol berwarna merah membara meleleh keluar dan membeku karena udara dingin, membentuk padatan belerang berwarna kuning terang. Terkadang bara fumarol menyala tak terkendali, yang biasanya segera disiram air untuk mencegah reaksi piroporik berantai. Batu-batuan belerang ini dipotong dengan linggis dan diangkut kedlm keranjang. Bernapas dlm lingkungan spt. ini dibutuhkan perjuangan tersendiri, para penambang umumnya bekerja sambil menggigit kain sarung atau potongan kain seadanya sebagai penapis udara.

Selain langsung menuju muka danau, berkeliling punggungan kaldera dpt dilakukan dengan memakan waktu kurang lebih seharian penuh. Pendakian ke kawah Ijen umumnya disarankan dimulai pada pagi hari. Demi alasan keamanan, pendakian ke kawah ijen dari Paltuding ditutup selepas pukul 14:00, karena pekatnya asap dan kemungkinan arah angin yang mengarah ke jalur pendakian. Untuk mengejar perjalanan di pagi hari, pengunjung disarankan menginap di lokasi terdekat di Bondowoso, kota pegunungan yang bersih, atau di Situbondo sebuah kota pantai. Jika anda menyukai suasana perkebunan pegunungan, tempat yang berkesan untuk bermalam adalah Guest House Perkebunan Kopi PTP Nusantara XII di Kalisat, Jampit. Guest house ini terletak didalam kompleks perumahan perkebunan pada ketinggian sekitar 1,200 mdpl. Selain itu juga tersedia Pondok Wisata di Paltuding yang cukup bersih, atau membuka tenda di bumi perkemahan Paltuding. Temparature rata-rata di sekitar kawah Ijen adalah 13 oC di siang hari dan 2 oC di malam hari.

Untuk mencapai kawah Ijen saat ini tidaklah terlalu sulit. Terdapat dua cara, pertama melalui kota Banyuwangi sejauh 38 km ke barat melalui Licin, Jambu dan terus ke Paltuding (1,600 mdpl). Cara kedua adalah melalui kota Bondowoso 70 km kearah timur melalui Wonosari, Sempol (800 mdpl) terus ke Paltuding m. Cara kedua ini paling banyak ditempuh orang karena melalui jalan aspal mulus, sedangkan cara pertama melalui jalan makadam penuh tanjakan curam. Turis asing selepas kunjungan di Bromo biasanya datang melalui Bondowoso, meneruskan perjalanan melalui Banyuwangi, Bali dan Lombok.

Rute dari Bondowoso ini melalui daerah terbatas areal perkebunan kopi, dengan tiga pintu gerbang yang berbeda. Di setiap pintu gerbang kita diminta untuk mengisi buku tamu dan tujuan perjalanan. Pemandangan di rute ini sangat bagus, dengan kebun kopi arabikanya yang hijau teratur, hutan pinus Perhutani dan hutan perawan Cagar Alam Ijen-Merapi yang lebat. Kunjungan singkat satu hari dapat dilakukan, namun bermalam di perkebunan kopi adalah pilihan yang tepat. Tersedia paket agro-wisata mengunjungi kebun kopi dan unit pemrosesan biji kopi yang patut dipertimbangkan.

Archive of Yokohama

Ijen resort

Ijen Resort and Villas is the new and first luxury hotel in this spectacular scenic area.
Perched at the edge of the rainforest of Ijen National Pak and overlooking terraced rice fields to a row of volcanoes, each of Ijen Resorst’s 30 room boasts superb views from their spacious bed rooms and balconies. Bungalows with standard superior and suite accommodations are equipped with all facilities for modern comfort. Four hectares of beautiful garden and 360 degrees panoramic vistas of volcanoes,rainforest, terraced rice fields and view of Bali Strait afar make Ijen Resort and Villas itself a tourist destination.

Ijen Resort and Villas is located at 643 meters above sea level, in the remote village of Randu Agung, Licin Banyuwangi. The closest village is a group of dozen of houses 700 meters downhill, or another one 900 meter across the valley. The nearest real village is located at about 6 kilometers away. The hotel offers a comfortable base for travellers to enjoy unspoiled beauty if the rural East Java and resort staff organizes tours to mount Ijen to see its eerie sulfuric crater and other inspirational natural attractions.

Selasa, November 25, 2008

Ribuan nelayan serbu kantor DPRD

BO (13/11) - 7 ribuan Nelayan disekitar pesisir pantai selatan tadi pagi (13/11) menggelar unjuk rasa di Kantor DPRD Banyuwangi. Ribuan Nelayan yang berasal dari Muncar, Pancer, Lampon, Rajakwesi dan nelayan sekitar pantai selatan menuntut agar rekomendasi ekploitasi dari DPRD Banyuwangi dan Bupati segera dicabut.

Tidak hanya itu saja mayoritas nelayan tersebut menolak keberadaan tambang emas di area hutan lindung Gunung Tumpang Pitu Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi. Warga menganggap keberadaan tambang emas yang dikelola PT Indo Multi Niaga ( IMN ) yang sudah mengeksplorasi tambang emas tersebut selama satu tahun lebih tersebut merugikan nelayan di sekitarnya.

Deal or no deal ?
(sumbangkan opini Anda)

Banyuwangi butuh investasi

BO (24/11) - Pro kontra keberadaan tambang emas di area hutan lindung Gunung Tumpang Pitu Dusun Pancer Desa Sumberagung Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi, masih terus bergulir. Tadi siang (24/11) lima ratusan massa kelompok pro keberadaan tambang emas menggelar aksi. Massa yang menamakan dirinya dengan Aliansi Masyarakat peduli Investasi Banyuwangi (Ampibi) berunjuk rasa di depan kantor DPRD Banyuwangi.

Begitu sampai di kantor wakil rakyat ratusan massa langsung berorasi sambil meneriakan " hidup Ampibi, hidup Ampibi " menyesalkan tindakan DPRD Banyuwangi yang telah mencabut surat rekomendasi ekplorasi tambang emas.

So guys, lebih baik gimana ya ?
(sumbangkan opini Anda)

Senin, November 24, 2008

Masyarakat Using

Salah satu masyarakat yang hidup di Jawa Timur yang cukup menarik tradisi perkawinannya adalah masyarakat Using Banyuwangi. Disebut menarik karena masyarakat Using Banyuwangi dikenal sebagai masyarakat yang memiliki kebudayaan campuran. Ini tampak pada busana pengantinnya yang terpengaruh gaya Jawa, Madura, Bali, bahkan pengaruh dari suku lain di luar Jawa. Di lingkungan masyarakat Using Banyuwangi berlaku adat perkawinan dengan melalui tahap-tahap sebagai berikut:

Tahap Perkenalan
Tahap perkenalan merupakan tahap penjajakan antara dua kekasih. Pada tahap ini bisa saja terjadi, hubungan antara kedua kekasih terpaksa harus putus karena sesuatu sebab. Akan tetapi ada pula yang berlangsung hingga ke jenjang perkawinan. Apabila tahap ini dapat berlangsung dengan mulus, tanpa ada rintangan, maka di lanjutkan tahap selanjutnya, yaitu tahap meminang.

Tahap Meminang
Menurut adat yang berlaku di lingkungan masyarakat Banyuwangi, meminang dilakukan pihak laki-laki. Biasanya bila suatu keluarga yang memiliki anak laki-laki telah menyetujui gadis pilihannya, maka dilakukan pinangan dengan menyuruh orang lain untuk meminang calon menantunya. Orang suruhan ini bisa dari keluarga dekatnya sendiri ataupun dari orang lain yang dipercaya. Sebelum dilakukan pinangan biasanya pihak laki-laki akan memberitahukan kepada pihak perempuan terlebih dahulu. Saat lamaran pihak laki-laki datang dengan membawa seperangkat pakaian wanita sebagai tanda ikatan antara kedua pasang kekasih. Lamaran atau pinangan ini sebenarnya hanya bersifat formalitas saja. Pada saat pertemuan ini, akah dibicarakan bersama-sama hari jadi atau pelaksanaan upacara perkawinan serta masalah-masalah lain yang berhubungan dengan pelaksanaan upacara perkawinan. Dari hasil pembicaraan antara kedua belah pihak, apabila ternyata pihak perempuan, dari segi ekonomi tidak mampu untuk mengadakan upacara, maka pihak laki-laki akan " ngleboni " atau memberi bantuan untuk pelaksanaan perkawinan anaknya. Sebaliknya apabila pihak laki-laki ternyata tidak mampu, maka pihak iaki-laki " nglundung semprong " saja.

Tahap Peresmian Perkawinan
Peresmian perkawinan atau upacara perkawinan merupakan klimaks sekaligus inti adat perkawinan. Oleh karena itu, pihak penyelenggara upacara akan mempersiapkan upaaara secara matang dan khusus. Pelaksanaan upacara perkawinan di lingkungan masyarakat Using Banyuwangi terlihat sebagai paduan antara upacara yang bersifat agamis dengan upacara tradisional. Bagi pemeluk agama Islam, akan silakukan Upacara Ijab Khobul sebagai salah satu syarat sahnya perkawinan menurut agama Islam. Sebagai tanda sahnya perkawinan tersebut, mereka akan memperoleh surat nikah yang dikeluarkan oleh Kantor Agama setempat. Selain dari tahap-tahap tersebut di atas, masyarakat Using Banyuwangi, juga mengenal adat perkawinan yang cukup menarik, yaitu: Adu Tumper dan Perang Bangkat.

Adat Perkawinan Adu Tumper
Adat perkawinan adu tumper dilakukan sehubungan dengan adanya kepercayaan masyarakat Using Banyuwangi yang melarang melakukan perkawinan antara sepasang pengantin yang berstatus sebagai anak sulung di lingkungan keluarganya masing-masing. Apabila perkawinan tersebut tetap dilakukan, maka dipercaya dapat berakibat pasangan pengantin baru itu akan banyak mengalami halangan dan rintangan dalam mengarungi hidupnya. Akan tetapi, apabila disebabkan oleh sesuatu hal, kemudian perkawinan antara sepasang pengantin yang berstatus anak suXung tetap harus dilakukan, maka untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, secara adat dilakukan upacara Adu Tumper saat upacara temon berlangsung.

Adat Perkawinan Perang Bangkat
Adat perkawinan perang bangkat, juga merupakan rangkaian dari upacara temon pengantin anak bungsu. Bisa kedua-keduanya anak bungsu atau salah satu dari kedua pengantin tersebut adalah anak bungsu. Tentunya tidak dilakukan untuk perkawinan anak sulung, anak kedua dan seterusnya. Adat perang bangkat, masih dipertahankan masyarakat Using Banyuwangi hingga saat ini.

Pakaian Adat Using Banyuwangi
Berbicara tentang pakaian adat pengantin Using Banyuwangi, cukup menarik. Apabila kenyataan tertumpu pada kenyataan yang sekarang. Tidak jauh berbeda dengan masyarakat lain, kendatipun sebagian besar masyarakat Using berdomisili di daerah pedesaan, tetapi karena letak desa - desa yang banyak dihuni masyarakat Using di daerah banyuwangi ini tidak terlalu jauh dari kota Banyuwangi, maka pengaruh modernisasi, utamanya yang berhubungan dengan adat perkawinan dan pakaian pengantinnya telah masuk pula ke pedesaan. Gejala yang terlihat adalah adanya kecenderungan pengantin gaya Solo atau Yogyakarta. Keinginan ini tidak terlalu sulit diwujudkan karena banyak juru paes pengantin yang siap dengan pakaian tersebut.

ImageBila diperhatikan dengan seksama, bagian - bagian dari pakaian pengantin tradisional masyarakat Using Banyuwangi menunjukkan adanya campuran antara pakaian pengantin Jawa, pakaian tradisional Madura, Bali dan luarJawa. Pengantin pria memakai kuluk seperti kuluk yang dipakai pengantin Jawa. Pengantin laki - laki atau perempuan dilengkapi dilengkapi dengan asesoris berupa gelang atau binggel seperti yang digunakan oleh para wanita dari masyarakat Madura. Asesoris untuk hiasan kepala pengantin wanita bentuknya mirip dengan pakaian penari Bali. Baik pengantin pria ataupun wanita mengenakan kain sarung pelekat yang dibuat dari bahan sutera baik berasal dari Bugis Makasar maupun dari Samarinda. Jelas bahwa pakaian asli pengantin tradisional Masyarakat Using Banyuwangi sebagai hasil dari peminjaman kebudayaan.

Sisi lain yang tidak kurang menariknya adalah terjadinya kesepakatan sebagai upaya melakukan perubahan dari busana pengantin tradisional tersebut. Karena sesuatu sebab, beberapa orang yang merasa punya tanggung jawab terhadap masalah kebudayaan, khususnya kebudayaan Banyuwangi, telah berhasil menciptakan pakaian pengantin tradisional masyarakat Using Banyuwnagi. Cara yang dilakukan adalah memodifikasi pakaian pengantin yang pernah ada di lingkungan dengan menghilangkan bagian - bagian yang dirasakan sudah ketinggalan jaman, misalnya meninggalkan kebiasaan memakai kaca mata hitam baik untuk pengantin pria maupun pengantin wanita.

Gagasan memodifikasi pakaian pengantin tradisional masyarakat Using Banyuwangi merupakan penemuan baru dan sebagai penambah pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan maksud mengangkat martabat masyarakat Using Banyuwangi sekaligus sebagai upaya lebih memasyrakatkan salah satu hasil budaya masyrakat Banyuwangi, yaitu berupa batik tulis dengan motifnya yang khas disebut motif gajah holing. Pakaian pengantin tradisional masyarakat Using Bnayuwangi ini cukup baik bila dilihat dari segi motivasinya, terutama bagi masyarakat Bayuwangi pada umumnya. Tetapi dari sisi lain, sebenarnya merugikan, karena secara tidak sengaja telah menghilangkan sesuatu yang cukup unik sebagai ciri khas dari masyarakat Using itu sendiri yaitu suatu masyarakat yang memiliki budaya campuran, akan kabur karena salah satu bukti yang dapat dilihat dengan jelas di antaranya adlah mengamati pakaian pengantin tersebut.(petra.ac.id)